the availability heuristic
mengapa berita crash kemarin lebih menakutkan daripada data jangka panjang
Pernahkah kita membatalkan tiket pesawat liburan, atau sekadar merasa mulas dan keringat dingin saat pesawat hendak take-off, hanya karena semalam kita baru saja membaca berita kecelakaan tragis di layar ponsel? Padahal, jika mau jujur pada logika, kita semua tahu persis bahwa menyetir mobil ke bandara secara statistik jauh lebih berbahaya daripada terbang melintasi awan. Lalu, mengapa otak kita yang konon sangat rasional ini mendadak lumpuh, tunduk pada rasa takut sesaat, dan mengabaikan data keamanan penerbangan selama puluhan tahun? Tenang saja, teman-teman. Kita tidak sedang menjadi bodoh. Mari kita bedah bersama-sama fenomena unik di dalam kepala kita ini.
Untuk memahami kejanggalan cara berpikir ini, kita perlu mundur sejenak dan menengok kehidupan leluhur kita puluhan ribu tahun yang lalu. Bayangkan kita sedang berjalan santai di padang rumput sabana. Tiba-tiba, kita melihat dengan mata kepala sendiri seorang anggota suku kita diterkam oleh hewan buas di dekat semak-semak. Apakah kita akan duduk diam, mengambil batu, dan mulai menghitung probabilitas matematis untuk kembali ke semak-semak tersebut besok pagi? Tentu saja tidak. Otak kita dirancang untuk langsung merekam kejadian mengerikan itu dengan tinta merah menyala. Memori tersebut akan selalu berada di urutan teratas dalam ingatan kita. Bagi leluhur kita, ingatan yang paling cepat dan mudah diakses adalah kunci utama untuk bertahan hidup. Kita semua hari ini mewarisi sistem operasi purba tersebut. Sebuah jalan pintas mental yang dirancang untuk merespons ancaman secepat kilat, bukan untuk memenangkan debat statistik.
Masalahnya mulai muncul di sini. Dunia di sekitar kita sudah berubah dengan sangat drastis, tetapi otak kita pada dasarnya masih tertinggal di zaman batu. Di era modern ini, ancaman mematikan jarang terjadi tepat di depan mata kita secara langsung. Sebagai gantinya, kita memiliki layar gawai yang 24 jam sehari memborbardir kita dengan gambar-gambar dramatis, emosional, dan menakutkan dari seluruh penjuru bumi. Pernahkah teman-teman menyadari bahwa kita sering kali jauh lebih takut pada serangan hiu saat berenang di laut, daripada takut mati karena penyakit jantung akibat gaya hidup kurang gerak? Padahal, faktanya pembunuh nomor satu kita sangatlah senyap dan tidak punya gigi tajam. Ada sebuah "korsleting" misterius di dalam otak kita saat memproses informasi semacam ini. Sesuatu yang diam-diam membuat kita menyimpulkan bahwa: jika sebuah kejadian sangat mudah diingat, maka kejadian itu pasti sangat sering terjadi. Apa sebenarnya nama jebakan pikiran yang membuat kita gemar salah menimbang risiko ini?
Selamat datang di sebuah konsep psikologi kognitif yang dikenal sebagai the availability heuristic atau heuristik ketersediaan. Dua ilmuwan legendaris pemenang hadiah Nobel, Daniel Kahneman dan Amos Tversky, menemukan fakta yang mengejutkan. Mereka membuktikan bahwa manusia menilai probabilitas atau kemungkinan terjadinya suatu peristiwa murni berdasarkan seberapa mudah contoh peristiwa tersebut ditarik dari dalam ingatan. Semakin dramatis, emosional, dan baru sebuah berita—seperti jatuhnya pesawat kemarin atau hancurnya pasar saham minggu lalu—semakin cepat amygdala (pusat emosi di otak kita) menyimpannya di laci paling depan. Saat kita mencoba menebak sebuah risiko, otak kita yang cenderung malas ini tidak akan repot-repot mencari data historis jangka panjang dari biro statistik. Otak hanya akan menarik file memori yang paling atas. Karena berita kecelakaan kemarin visualnya sangat vivid atau hidup dalam pikiran kita, otak menipu kita dengan berbisik: "Hei, ini gampang banget diingat, berarti ancaman ini pasti ada di mana-mana dan bisa menimpamu besok!"
Mengetahui rahasia dapur otak ini tidak lantas membuat kita seketika terbebas dari rasa takut. Sangat wajar jika kita merasa cemas atau sedih setelah melihat berita buruk. Itu adalah tanda bahwa empati dan insting bertahan hidup kita masih berfungsi dengan sangat baik. Namun, dengan memahami cara kerja the availability heuristic, kita sekarang memiliki semacam rem darurat di dalam kepala. Ketika kepanikan mulai mengambil alih kendali, kita bisa mengambil jeda, menarik napas panjang, merangkul rasa cemas tersebut, dan perlahan mengundang sisi logis kita untuk ikut duduk bersama. Kita bisa mulai bertanya pada diri sendiri, "Apakah ini benar-benar ancaman yang mewakili realitas yang lebih luas, atau sekadar memori horor yang kebetulan sedang lewat di beranda media sosialku?" Pada akhirnya, membaca deretan data statistik mungkin terasa sangat dingin, membosankan, dan tidak memiliki jalan cerita yang mendebarkan. Namun percayalah, di tengah dunia modern yang penuh dengan kebisingan berita yang menakutkan, angka-angka yang membosankan itulah yang sering kali menjadi teman paling setia untuk memeluk kewarasan kita.